DREAM IN REAL

antara darwinisme dan fasisme

Posted on: 25UTC49UTC11bUTCTue, 25 Nov 2008 09:37:49 +0000 4, 2008

Aliansi Berdarah Antara Darwin dan Hitler

Nazisme lahir di tengah kekacauan di Jerman yang menderita kekalahan dalam perang dunia pertama. Pemimpin partai ini adalah Adolf Hitler, sosok pemarah dan agresif. Rasisme melandasi cara pandang Hitler terhadap dunia. Ia meyakini Arya, yang merupakan ras utama bangsa Jerman, sebagai ras paling unggul di atas semua ras lain, sehingga sudah sepatutnya memimpin mereka. Ia memimpikan bahwa ras Arya akan mendirikan imperium dunia yang akan bertahan selama 1000 tahun.

Landasan ilmiah yang digunakan Hitler bagi teori rasis ini adalah teori evolusi Darwin. Tokoh utama yang mempengaruhi pemikiran Hitler, yakni sejarawan rasis Jerman Herinrich Von Treitschke, sangat dipengaruhi teori evolusi Darwin dan mendasarkan pandangan rasisnya pada Darwinisme. Ia sering berkata, “Bangsa-bangsa hanya mampu berkembang melalui persaingan sengit sebagaimana gagasan Darwin tentang kelangsungan hidup bagi yang terkuat,” dan memaklumkan bahwa ini berarti peperangan tanpa henti yang tak terhindarkan. Ia berpandangan bahwa, “Penaklukan dengan pedang adalah cara untuk membangun peradaban dari kebiadaban dan ilmu pengetahuan dari kebodohan.” Ia berpendapat, “Ras-ras kuning tidak memahami ketrampilan seni dan kebebasan politik. Sudah menjadi takdir ras-ras hitam untuk melayani bangsa kulit putih dan menjadi sasaran kebencian orang kulit putih untuk selamanya…”43


Saat membangun teorinya, Hitler, sebagaimana Treitschke, mendapatkan ilham dari Darwin, terutama gagasan Darwin tentang perjuangan untuk bertahan hidup. Judul bukunya yang terkenal, yakni Mein Kampf (Perjuangan Saya), telah terilhami oleh gagasan tersebut. Seperti halnya Darwin, Hitler memberikan status kera pada ras selain Eropa, dan mengatakan, “Singkirkan bangsa Jerman Nordik dan tidak ada yang tersisa kecuali tarian para kera”.44

Dalam rapat umum partai pada tahun 1933 di Nuremberg, Hitler mengatakan bahwa, “ras yang lebih tinggi menjajah ras yang lebih rendah…sebuah kebenaran yang kita saksikan di alam dan yang dapat dianggap sebagai satu-satunya kebenaran yang mungkin,” karena didasarkan pada ilmu pengetahuan.45


Hitler dan bukunya Mein Kampf yang berisi ulasan tentang ideologinya.

Hitler, yang meyakini keunggulan ras Arya, mempercayai keunggulan tersebut sebagai pemberian alam. Dalam buku Mein Kampf ia menulis sebagai berikut:

Orang-orang Yahudi membentuk ras pesaing lebih rendah di bawah manusia, yang telah ditakdirkan oleh warisan biologis mereka sebagai yang terhina, sebagaimana ras Nordik telah dinobatkan sebagai yang terhormat… Sejarah akan berpuncak pada sebuah imperium milenium baru dengan kemegahan yang tiada tara, yang berlandaskan pada hirarki baru berdasarkan ras sebagaimana ketentuan alam itu sendiri.46

Hitler, yang menganggap manusia sebagai jenis binatang yang sangat maju, percaya bahwa untuk mengatur proses evolusi, diperlukan pengambil-alihan kendali proses tersebut ke tangannya sendiri dalam rangka membangun ras manusia Arya, daripada membiarkannya diatur oleh kekuatan alam dan peristiwa kebetulan. Dan inilah tujuan akhir pergerakan Nazi. Untuk mewujudkan tujuan ini, langkah awalnya adalah memisahkan, dan mengucilkan ras-ras lebih rendah dari ras Arya yang dianggap paling unggul.

Di sinilah Nazi mulai menerapkan Darwinisme dengan mengambil contoh dari “teori eugenika” yang bersumber pada Darwinisme.

Teori Eugenika Didasarkan pada Gagasan Darwin

Teori eugenika muncul di pertengahan awal abad ke-20. Eugenika berarti membuang orang-orang berpenyakit dan cacat, serta “memperbaiki” ras manusia dengan memperbanyak jumlah individu sehat. Sebagaimana hewan jenis unggul dapat dibiakkan dengan mengawinkan induk-induk hewan yang sehat, maka berdasarkan teori ini ras manusia pun dapat diperbaiki melalui cara yang sama.


Francis Galton (kiri) dan Leonard Darwin (kanan).

Seperti telah diduga, yang memunculkan program eugenika adalah para Darwinis. Para pemuka pergerakan eugenika di Inggris adalah sepupu Charles Darwin, Francis Galton, dan anaknya Leonard Darwin.

Telah jelas bahwa gagasan eugenika merupakan akibat alamiah Darwinisme. Bahkan, kebenaran tentang eugenika ini mendapatkan tempat istimewa dalam berbagai penerbitan yang mendukung eugenika, “Eugenika adalah pengaturan mandiri evolusi manusia”, bunyi salah satu tulisan tersebut.

Kenneth Ludmerer, ahli sejarah kedokteran di Washington University, mengemukakan bahwa gagasan eugenika seusia dengan gagasan Republik Plato, tapi ia juga menambahkan bahwa Darwinisme merupakan penyebab munculnya ketertarikan terhadap gagasan eugenika di abad ke-19:


Ernst Haeckel

…pemikiran eugenika modern muncul hanya pada abad ke-19. Adanya ketertarikan terhadap eugenika selama abad itu disebabkan oleh banyak hal. Di antara yang terpenting adalah teori evolusi, sebab gagasan Francis Galton tentang eugenika – dan dialah yang menciptakan istilah eugenika – adalah akibat logis langsung dari doktrin ilmiah yang dikemukakan sepupunya, Charles Darwin.47

Di Jerman, orang pertama yang terpengaruh dan kemudian menyebarkan teori eugenika adalah ahli biologi evolusionis terkenal Ernst Haeckel. Haeckel adalah teman dekat sekaligus pendukung Darwin. Untuk mendukung teori evolusi, ia mengemukakan teori “rekapitulasi”, yang menyatakan bahwa embrio dari berbagai makhluk hidup menyerupai satu sama lain. Di kemudian hari diketahui ternyata Haeckel telah memalsukan data ketika memunculkan pendapatnya ini.

Selain membuat pemalsuan ilmiah, Haeckel juga menyebarkan propaganda eugenika. Ia menyarankan agar bayi cacat yang baru lahir segera dibunuh karena hal ini akan mempercepat evolusi pada masyarakat manusia. Ia bahkan melangkah lebih jauh dengan mengatakan para penderita lepra dan kanker serta yang berpenyakit mental harus dibunuh dengan tanpa ada masalah, sebab jika tidak, mereka akan membebani masyarakat dan memperlambat evolusi.

Peneliti Amerika George Stein berkesimpulan tentang dukungan buta Haeckel terhadap teori evolusi dalam artikelnya di majalah American Scientist sebagai berikut:

…[Haeckel] berpendapat bahwa Darwin benar…manusia, tanpa perlu dipertanyakan lagi, berevolusi dari dunia hewan. Demikianlah, dari sini langkah maut telah diambil saat Haeckel pertama kali mengemukakan Darwinisme ke seluruh penjuru Jerman, keberadaan manusia secara sosial dan politik dikendalikan oleh hukum-hukum evolusi, seleksi alam, dan biologi, sebagaimana dikemukakan secara jelas oleh Darwin. Untuk berpendapat sebaliknya adalah pandangan takhayyul yang ketinggalan zaman.48

Orang-orang tua dan berpenyakit dibunuh menurut kebijakan eugenika Hitler.

Haeckel meninggal pada tahun 1919. Tapi gagasannya diwarisi oleh kaum Nazi. Segera setelah Hitler meraih kekuasaan, program resmi eugenika mulai diterapkan. Hitler menyatakan kebijakan baru tersebut dalam kalimat berikut ini:

Dalam negara yang populer, pendidikan akal dan jasmani akan memainkan peranan penting, tetapi seleksi manusia pun sama pentingnya…Negara bertanggung jawab memutuskan ketidaklayakan bereproduksi kepada siapapun yang jelas-jelas sakit atau berkelainan secara genetis… dan harus menjalankan tanggung jawab ini tanpa merasa kasihan dengan tidak mempedulikan apakah orang tersebut mengerti atau tidak…. Penghentian kelahiran keturunan yang lemah jasmani atau cacat mental dalam waktu hanya 600 tahun akan berujung pada…perbaikan tingkat kesehatan manusia yang saat ini sulit diwujudkan. Jika tingkat kesuburan anggota paling sehat dari ras ini tercapai dan terencana, yang akan dihasilkan adalah suatu ras yang…telah kehilangan benih-benih cacat jasmani dan ruhani yang untuk saat sekarang masih kita bawa.49

Demi menjalankan kebijakan Hitler ini, penderita kelainan jiwa, orang cacat, orang buta sejak lahir, dan penderita penyakit genetis dalam masyarakat Jerman, dikurung dalam “pusat-pusat sterilisasi” khusus. Mereka dianggap parasit yang membahayakan kemurnian dan kelancaran perjalanan evolusi ras Jerman. Di kemudian hari, mereka yang dikucilkan dari masyarakat ini dibunuh melalui perintah rahasia Hitler.


Pemenang medali emas Olimpiade 1936 di Berlin, Jesse Owens, tidak diberi ucapan selamat oleh Hitler hanya karena kulitnya hitam.

Pembunuhan ini dikemukakan sebagai hal yang sama sekali beralasan dan mereka yang dianggap rendah secara genetis digambarkan sebagai manusia “tidak menguntungkan” yang menghalangi kemajuan bangsa. Sejumlah kelompok masyarakat, termasuk beragam ras dan suku bangsa tertentu, yang dianggap berkelas rendah lambat-laun mulai dijadikan sasaran. Selanjutnya, orang tua berpenyakit, pengidap penyakit kuning, penderita kelainan mental parah, tuli dan bisu, dan bahkan mereka yang berpenyakit parah dijadikan korban. Setelah atlit berkulit hitam Jesse Owens memenangkan empat medali emas di Olimpiade Berlin tahun 1936, Hitler, meskipun mengucapkan selamat kepada semua peserta lomba, menolak untuk mengucapkannya kepada Jesse Owens dan meninggalkan stadion. Sejumlah evolusionis bahkan mengemukakan pandangan bahwa secara evolusi wanita lebih rendah dari pria. Dr. Robert Wartenberg, yang kemudian menjadi profesor neurologi terkemuka di California, berusaha membuktikan hal tersebut dengan beralasan bahwa wanita tidak akan mampu bertahan hidup kecuali ‘dilindungi oleh pria’. Ia menyimpulkan, oleh karena wanita yang lemah tersebut tidak tersisihkan dengan cepat akibat perlindungan ini, evolusi pun berjalan lambat, dan karenanya seleksi alam kurang berlaku pada wanita dibanding pada pria. Berdasarkan pemikiran ini, kaum wanita Jerman era Nazi secara terbuka dilarang memiliki jenis pekerjaan tertentu.50

Menyusul perkembangan Darwinisme dan gagasan eugenika di Jerman, “para ilmuwan ras” secara terbuka mendukung pembunuhan anggota atau bagian masyarakat yang tidak diinginkan dari penduduk Jerman. Salah satu ilmuwan ini, Adolf Jost, “mengeluarkan seruan dini bagi pembunuhan medis secara langsung dalam sebuah buku yang terbit pada tahun 1895, Das Recht auf den Tod (The Right to Death). Ia beralasan, “demi mewujudkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan, negara wajib memikul tanggung jawab atas kematian individu-individunya.” Adolf Jost adalah penasehat Adolf Hitler yang menampakkan diri di panggung politik selama hampir 30 tahun kemudian. “Negara wajib memastikan bahwa hanya individu sehat yang melahirkan anak,” kata Hitler. “Negara harus menyatakan ketidaklayakan untuk memiliki keturunan bagi mereka yang terlihat berpenyakit atau yang menderita penyakit keturunan sehingga dapat mewariskan ke keturunannya.”51

Menurut undang-undang yang dikeluarkan pada tahun 1933, 350.000 penderita cacat mental, 30.000 orang jipsi, dan ratusan anak berkulit hitam dimandulkan dengan cara pengebirian, penggunaan sinar X, penyuntikan, dan kejutan listrik pada alat kelamin. Seorang perwira Nazi berkata, “Sosialisme kebangsaan tidak lain hanyalah biologi terapan”.52


Hitler mengumpulkan wanita-wanita berambut pirang dan bermata biru, dan menjaga agar mereka selalu bergaul dengan para perwira SS Nazi. Dengan cara ini ia bermimpi membangun ras paling unggul.

Selain upaya percepatan pembangunan ras Jerman dengan cara membunuh dan menerapkan berbagai kebijakan kejam terhadap masyarakat tak berdosa, Hitler juga menerapkan hal lain yang diperlukan bagi eugenika. Pria dan wanita berambut pirang dan bermata biru, yang dianggap mewakili ras Jerman, dianjurkan untuk saling berhubungan dan melahirkan keturunan. Pada tahun 1935 ladang-ladang reproduksi khusus didirikan untuk tujuan tersebut. Ladang-ladang ini, di mana para wanita muda yang memenuhi persyaratan ras Jerman ditempatkan, seringkali dikunjungi oleh satuan pasukan SS Nazi. Bayi-bayi zina yang lahir di tempat tersebut dibesarkan agar kelak menjadi prajurit imperium Jerman yang diharapkan akan berusia 1.000 tahun.

Pemurnian Ras Arya oleh Nazi


PENYIMPANGAN RAS INDUK
Para perwira Nazi, yang telah dididik dengan pemikiran evolusi, berusaha mencari ras induk dengan mengukur tempurung kepala, hidung dan dahi.

Kaum Nazi kembali menggunaan pemikiran Darwinis untuk menyatakan tanpa bukti tentang keunggulan ras Arya. Darwin mengemukakan bahwa saat manusia sedang berevolusi, tengkorak mereka tumbuh membesar. Kaum Nazi sangat meyakini gagasan ini dan mulai melakukan pengukuran tengkorak untuk menunjukkan ras Jerman sebagai yang paling unggul. Di seluruh penjuru Jerman Nazi, pembandingan dilakukan demi membuktikan tengkorak Jerman lebih besar dibanding ras-ras lain. Gigi, mata, rambut, dan ciri tubuh lainnya diperiksa berdasarkan ketentuan evolusi. Mereka yang kedapatan tidak bersesuaian dengan ketentuan ras Jerman dibinasakan menurut kebijakan eugenika.

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan” (QS. Al-Baqarah, 2:205)

Segala kekejaman ini dilaksanakan dalam rangka menerapkan prinsip Darwinis dalam masyarakat manusia. Sejarawan Amerika Michael Gordin, pengarang buku The Nazi Doctors and The Nuremberg Code, mengungkap kenyataan tersebut sebagai berikut:

Saya pikir apa yang telah terjadi adalah adanya kesesuaian sempurna antara ideologi Nazi dan Darwinisme Sosial dan pemurnian ras saat terjadi perkembangan di peralihan abad ke-20.53

Perihal ini, George Stein menjelaskan:


Sebagaimana Hitler, Heinrich Himmler, pemimpin Gestapo, serta para perwira Nazi lainnya berpandangan Darwinis, sehingga menjadikan mereka berpola pikir rasis dan bengis.

Sosialisme kebangsaan, atau apapun namanya, pada intinya adalah usaha pertama kali yang dilakukan secara sadar untuk membangun masyarakat politik di atas landasan kebijakan biologis yang jelas: kebijakan biologis yang sejalan penuh dengan fakta ilmiah revolusi Darwin.54

Evolusionis terkenal Sir Arthur Keith berkata tentang Hitler sebagaimana berikut:

Pemimpin Jerman adalah seorang evolusionis; ia telah dengan sadar menjadikan Jerman sejalan dengan teori evolusi.55

Pengarang buku Darwin: Before and After, Robert Clarke menyimpulkan bahwa Adolf Hitler: ” … terpikat oleh pelajaran tentang evolusi – mungkin sejak ia masih anak-anak. Hitler beralasan…bahwa ras lebih unggul akan selalu menaklukkan ras lebih rendah.”56 Filsafat politik Jerman Nazi terbentuk di bawah pengaruh gagasan Hitler ini.

Pengarang buku Race and Reich, Joseph Tenenbaum mengemukakan filsafat politik Jerman dibangun di atas keyakinan bahwa yang diperlukan bagi perkembangan evolusi adalah:

…perjuangan, seleksi, dan keberlangsungan hidup bagi yang terkuat, semua gagasan dan pemikiran dirumuskan … oleh Darwin … tetapi telah mulai tumbuh subur dalam filsafat sosial Jerman abad ke-19. … Sehingga memunculkan doktrin tentang hak alamiah Jerman untuk memerintah dunia berdasarkan kekuatan yang lebih unggul …imperium Jerman di atas bangsa-bangsa yang lebih lemah, sebagaimana hubungan “palu dan landasan tempa”.57

Di antara para pemimpin Nazi, Adolf Hitler bukanlah satu-satunya yang melancarkan “peperangan evolusi ideologis”. Heinrich Himmler, pemimpin Gestapo, “menyatakan hukum alam harus dibiarkan menjalankan perannya pada kelangsungan hidup bagi yang terkuat”. Bahkan, seluruh pemimpin Nazi menaruh keyakinan kuat pada evolusi dan rasisme Jerman, sebagaimana kebanyakan para ilmuwan dan pengusaha Jerman selama tahun-tahun suram tersebut.

Kebencian Hitler Terhadap Agama

Alasan lain mengapa Hitler sangat menekankan pentingnya teori evolusi adalah karena ia memahami teori ini sebagai senjata melawan kepercayaan agama. Hitler memiliki kebenciaan mendalam terhadap agama-agama wahyu. Nilai moral seperti cinta, belas kasih, dan kerendahan hati, yang diajarkan agama, merupakan halangan besar bagi kemunculan sosok manusia Arya yang beringas dan ahli perang yang ingin diciptakan oleh kaum Nazi. Oleh karenanya, setelah Nazi meraih kekuasaan pada tahun 1933 mereka berusaha mengembalikan masyarakat Jerman kepada keyakinan paganisme mereka di masa lalu. Swastika, lambang yang berasal dari kebudayaan pagan kuno, adalah tanda kembalinya kebudayaan ini. Upacara Nazi yang diadakan di setiap penjuru tempat di Jerman adalah penghidupan kembali upacara keagamaan paganisme kuno. Jadi, tidaklah mengherankan bila ternyata gagasan evolusi, yang merupakan warisan kebudayaan paganisme, sangat bersesuaian dengan ideologi Nazisme. Hitler pernah mengungkapkan sikapnya terhadap agama Kristen saat ia menyatakan secara terbuka bahwa agama adalah suatu:

… kebohongan terorganisir [yang] mesti dihancurkan. Negara harus tetap menjadi penguasa mutlak. Ketika masih muda, saya berpendapat tentang perlunya memulai [penghancuran agama] … dengan dinamit. Sejak itu saya menyadari pentingnya kehati-hatian dalam hal ini …Pada akhirnya… di kursi Kepausan di St. Peter, akan duduk seorang lelaki sangat tua dan lemah; dan sejumlah perempuan tua berwajah buruk yang mengelilinginya… Yang muda dan sehat adalah kami … Bangsa kita sebelumnya telah mampu hidup dengan baik tanpa agama ini. Saya mempunyai enam divisi pasukan SS yang sama sekali tidak mempedulikan ajaran agama.59


Swastika yang digunakan Hitler adalah lambang yang berasal dari kebudayaan pagan kuno.

Daniel Gasman mengungkap alasan tentang kebencian Hitler terhadap agama dalam bukunya The Scientific Origins of National Socialism:

Hitler menegaskan dan memberikan perhatian khusus kepada gagasan evolusi biologis sebagai senjata paling ampuh melawan agama tradisional dan ia berulang kali menyalahkan agama Kristen karena penentangannya terhadap pengajaran evolusi… Bagi Hitler, evolusi adalah simbul bagi ilmu pengetahuan modern dan peradaban.60

Sebenarnya, penyebab utama berbagai bencana dunia di abad ke-20 yang tak terhitung jumlahnya adalah perilaku manusia seperti Hitler dan kaum Nazi yang tidak beragama. Orang-orang yang mengingkari keberadaan Allah ini dan percaya bahwa manusia telah berevolusi menjadi binatang yang lebih maju dan berkembang, merasa dirinya tidak diawasi, dan tidak perlu bertanggung jawab kepada siapapun. Ketiadaan rasa takut kepada Allah dan hari kemudian menjadikan mereka melakukan kebiadaban dan kedzaliman tanpa batas; mereka membunuh jutaan orang tanpa belas kasih. Kesengsaraan dan penderitaan yang terjadi dalam masyarakat tak beragama dapat terlihat dengan jelas pada kasus Hitler. Dan tidak hanya Hitler: seperti yang akan kita lihat; Stalin, Mao, Pol Pot, Franco, Mussolini dan para tokoh lain yang telah menjadikan abad ke-20 bermandikan darah, adalah mereka yang sama sekali tidak mengenal agama. Sebuah pelajaran sudah sepatutnya diambil dari mimpi buruk ini, yang berpangkal dari pengingkaran terhadap agama.


Pertemuan akbar Nazi menyerupai upacara-upacara pagan kuno.

Sebaliknya, mereka yang takut kepada Allah dan hidup dalam naungan Alquran akan selalu membawa kedamaian, ketenangan, keamanan, kemakmuran, dan pencerahan bagi masyarakat. Manusia yang beriman kepada agama Allah tidak akan pernah mengusik kedamaian di belahan dunia manapun, sebaliknya mereka selalu menganjurkan kasih sayang, persahabatan, kesetiaan dan kerja sama.


Hitler bertanggung jawab atas terbunuhnya jutaan manusia, dan jutaan lagi yang terlantar tanpa pertolongan dan tempat bernaung. Ideologi biadabnya didasarkan pada gagasan Darwin tentang ras unggul dan ras rendah. Dan ia tidak ragu-ragu untuk membunuh mereka yang dianggap berasal dari ras-ras rendah.

Gambar-gambar ini memperlihatkan dengan sekilas penderitaan, ketakutan, kengerian, dan kesedihan yang ditimpakan Hitler dan mereka yang sepaham dengannya kepada umat manusia. Darwinisme, yang menjadi sumber utama mimpi buruk ini, masih terus menimbulkan penderitaan bagi manusia di seluruh penjuru dunia.

Bencana Dasyat yang Ditimbulkan oleh Si Darwinis-Fasis Mussolini

Sebagamana Hitler yang menentukan kebijakannya berdasarkan Darwinisme, rekan sezaman dan sekutunya Benito Mussolini juga berpijak pada pendapat dan konsep Darwinisme untuk membangun Italia di atas landasan imperialis dan Fasis.

Mussolini adalah Darwinis tulen, yang meyakini kekerasan sebagai kekuatan pendorong dalam sejarah, dan bahwa peperangan mendorong terjadinya revolusi. Menurutnya, “Keengganan Inggris untuk turut berperang hanya membuktikan kemunduran evolusi imperium Inggris.”61

Di bagian kepala majalah The People Of Italy (Il Popolo d’Italia), yang didirikannya dengan bantuan dana dari pemerintah Prancis, ia mencantumkan frase, “Seseorang yang memiliki besi juga akan memiliki roti.” Dengan kata lain ia mengatakan kepada masyarakat bahwa agar dapat mengisi perut mereka, mereka perlu kekuatan untuk berperang.

Mussolini menjadikan kapak sebagai lambang Fasisme dan Partai Fasis. Sebab kapak melambangkan peperangan, kekerasan, kematian, dan pembantaian.

Perilaku Mussolini, yang agresif dan cenderung pada kekerasan sebagaimana Fasis lainnya, diulas dalam buku karya Denis Mack Smith. Dalam bukunya, Smith menyatakan bahwa salah satu yang sangat diyakini Mussolini adalah agresi, dan naluri dasarnya adalah cenderung kepada kekerasan.62

Seperti halnya para Darwinis-Fasis lainnya, kebijakan Mussolini yang cenderung menyukai perang, agresif, dan menindas menyebabkan banyak manusia terbantai, terlunta-lunta tanpa tempat tinggal dan keluarga, serta negara yang hancur lebur. Kekerasan dan penindasan yang dilakukan, oleh para Blackshirts (pasukan Berbaju Hitam), tidak hanya di negerinya sendiri, tapi juga di negara lain. Pada tahun 1935 ia menduduki Etopia, dan hingga tahun 1941 telah memusnahkan 15.000 orang. Ia dengan segera mendukung dan membenarkan pendudukannya atas Etiopia berdasarkan pandangan rasialis Darwinisme. Menurut Mussolini, orang-orang Etopia berkedudukan lebih rendah karena berasal dari ras hitam, dan diperintah oleh ras lebih unggul seperti bangsa Italia sudah sepatutnya menjadi kehormatan bagi mereka.

Di sisi lain, ia melanjutkan penindasan terhadap kaum Muslimin sejak pendudukan Italia atas Libia pada tanggal 3 Oktober 1911, dan bahkan meningkatkan serangan yang ditujukan kepada umat Islam. Pendudukan tersebut berakhir dengan kematian Mussolini melalui kesepakatan yang dibuat pada tanggal 10 Februari 1947. Dalam rentang waktu ini, 1,5 juta kaum Muslimin meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya terluka.


Pasukan pembunuh bentukan Mussolini, the Blackshirts.

Mussolini, yang terkenal dalam sejarah karena kekejaman dan penindasannya, menjelaskan Fasisme yang ia bela dan ia terapkan dalam sebuah pidato:

Fasisme bukan lagi berarti pembebasan akan tetapi kedzaliman, bukan lagi sebagai pelindung negara tapi pengaman kepentingan individu.63

Seperti yang telah kita pahami dari apa yang terjadi pada masa Hitler dan Mussolini, Fasisme – di mana yang kuat dan kejam adalah yang benar dan paling unggul, di mana satu-satunya cara mencapai keberhasilan dan kemajuan adalah melalui keberingasan, penyerangan, kekerasan, dan peperangan – adalah penerapan gagasan Darwin tentang “Yang kuat hidup, yang lemah mati” dan mengakibatkan penderitaan jutaan manusia.


Seorang anggota Parlemen yang berbicara menentang Mussolini diculik dan dibunuh di siang hari. Gambar di atas memperlihatkan pemindahan mayatnya dari hutan tempat di mana ia ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.

Franco dan Penindasan Rakyat Spanyol

Satu lagi pemimpin berhaluan fasis yang menyebabkan abad ke-20 banjir darah adalah Franco. Ia membentuk gerakan “Falange” di Spanyol dengan dukungan para tokoh Darwinis Fasis, yakni Hitler dan Mussolini, dan menyebabkan terjadinya penderitaan dan penindasan bagi warga Spanyol. Franco menyeret rakyatnya kepada perang sipil, membangkitkan permusuhan atar saudara, bapak melawan anaknya.

Selama perang sipil Spanyol, rata-rata 250 orang terbunuh setiap harinya di Madrid, 150 di Barcelona, dan 80 di Seville. Sejumlah hukuman mati dilakukan dengan menancapkan paku ke kepala. Pembantaian tanpa belas kasihan terjadi hampir di seluruh pelosok negeri. Misalnya, di desa kecil di kawasan pengunungan sebelah Utara Madrid, 31 warganya ditahan karena tidak memberikan suaranya pada Franco, dan 13 di antaranya diangkut keluar dari desa menggunakan truk dan dibunuh di pinggir jalan. Para fasis memasuki sebuah kota berpenduduk 11.000 jiwa dekat Seville, dan membunuh lebih dari 300 orang. Akibat kekejaman yang terus berlangsung seperti ini, 800.000 orang terbunuh dalam perang sipil ini, 200.000 lebih dihukum mati atas perintah Franco, dan jutaan orang lainnya terluka atau cacat.

Franco Memberi Hitler Penduduk sebuah Desa secara Keseluruhan untuk melakukan uji senjata

Pendukung paling utama Franco dalam perang sipil tersebut adalah Hitler dan Mussolini. Franco tidak begitu saja menerima dukungan sekutunya tanpa imbalan apapun. Ia membuat salah satu persetujuan paling biadab dan paling kejam dalam sejarah dengan menghadiahkan kota-kota kecil seperti Guernica kepada Nazi untuk dijadikan sasaran pengujian senjata baru mereka:

Di pagi hari tanggal 5 Mei 1937, penduduk kota kecil Guernica terjaga dan kemudian menemui ajal akibat pesawat-pesawat pembom raksasa beserta berton-ton bomnya, begitulah keajaiban baru teknologi Nazi. Kota kecil tersebut telah dibiarkan oleh Franco untuk dijadikan tempat uji coba pesawat-pesawat Nazi.64

Peristiwa ini hanyalah salah satu akibat filsafat menyesatkan yang menganggap manusia sebagai binatang percobaan. Filsafat ini – yang menyebabkan ribuan orang mati hanya untuk dijadikan sarana uji coba kekuatan senjata dan yang menjadikan ribuan lainnya cacat, terluka dan tersiksa – masih hidup hingga sekarang dengan beragam penampakan yang berbeda. Hal ini akan terus berlanjut selama filsafat para Darwinis serta kedzaliman serupa, yang melihat manusia sebagai sejenis binatang dan perang sebagai jalan terbaik bagi kemajuan, senantiasa dipelihara agar tetap hidup.

Tidak ada belas kasih, bahkan terhadap anak-anak sekalipun, dalam perang sipil Spanyol, di mana Franco adalah tokoh yang paling bertanggung jawab. Orang-orang dipaksa keluar dari rumah-rumah mereka tanpa alasan apapun dan ditembak mati. Rakyat tak berdosa mati terbunuh, cacat dan kehilangan keluarga serta orang yang mereka cintai. Ini semua adalah wujud kebiadaban kaum fasis dalam kehidupan sehari-hari.

Peran Darwinisme dalam Mempersiapkan Perang Dunia
Pertama dan Kedua

Dalam bukunya Europe since 1870, Profesor sejarah terkenal asal Inggris James Joll menjelaskan salah satu penyebab pecahnya Perang Dunia Pertama adalah keyakinan para pemimpin Eropa saat itu terhadap pemikiran Darwinis:

Kita telah melihat bagaimana gagasan Darwin sangat berpengaruh pada ideologi penjajahan di akhir abad ke-19, tapi penting untuk disadari bagaimana doktrin tentang perjuangan untuk bertahan hidup dan kelangsungan hidup bagi yang terkuat menjadi diyakini secara harfiah oleh sebagian besar pemimpin Eropa di tahun-tahun menjelang Perang Dunia Pertama. Misalnya, kepala staf angkatan bersenjata Austro-Hungaria, Franz Baron Conrad von Hoetzendorff, menulis dalam catatanya seusai perang tersebut:

Agama yang menganjurkan kasih sayang, pengajaran akhlak, dan doktrin filosofis terkadang justru melemahkan perjuangan manusia untuk bertahan hidup hingga titik terendah, tapi semua ini takkan pernah berhasil menghilangkannya sebagai kekuatan pendorong di dunia … Sejalan dengan prinsip utama ini, bencana perang dunia terjadi sebagai akibat adanya kekuatan pendorong dalam kehidupan negara dan rakyat, seperti halilintar yang sesuai sifat alaminya harus melepaskan energinya sendiri.

Dilihat dari latar belakang ideologis semacam ini, tuntutan Conrad tentang perlunya perang pencegahan demi mempertahankan kerajaan Austro-Hungaria dapat dipahami.

Kita telah melihat pula bagaimana pandangan ini tidak hanya diyakini oleh para tokoh militer, dan Max Weber, misalnya, sanga terlibat dalam perjuangan untuk mempertahankan hidup dalam skala internasional. Ada lagi, Kurt Riezler, tangan kanan dan orang kepercayaan pribadi kanselir Jerman Theobald von Bethmann-Hollweg, pada tahun 1914 menulis: “Permusuhan yang abadi dan pasti pada dasarnya merupakan sifat bawaan yang telah ada dalam hubungan antar masyarakat; dan permusuhan yang kita saksikan di manapun… bukanlah akibat penyimpangan fitrah manusia akan tetapi itulah intisari (kehidupan) dunia dan sumber kehidupan itu sendiri.65

Friedrich von Bernhardi, seorang jenderal Perang Dunia Pertama dan penganut Darwinisme Sosial, tergolong pemimpin yang demikian pula. “Perang” menurutnya “adalah kebutuhan biologis”; ini “sama pentingnya dengan perjuangan oleh unsur-unsur alam lainnya”; perang “memberikan keputusan yang adil secara biologis”, sebab keputusannya berpijak pada sifat paling mendasar dari segala sesuatu.”66


Gambar halaman di sebelah kiri: pemandangan di London akibat pemboman pesawat tempur Jerman dalam Perang Dunia Kedua.

Seperti yang telah kita lihat, Perang Dunia Pertama terjadi karena para pemikir, jenderal, dan pemimpin Eropa menganggap berperang, menumpahkan darah, mengalami penderitaan, serta menimpakan penderitaan sebagai satu bentuk “kemajuan” dan hukum alam yang tak berubah. Inspirasi ideologis yang menyeret seluruh masyarakat masa itu kepada kehancuran melalui gagasan yang sama sekali palsu ini tidak lain adalah teori Darwin tentang “perjuangan untuk mempertahankan hidup” dan “ras-ras pilihan”. Dua tahun setelah Bernardi mengucapkan perkataan tersebut, Perang Dunia Pertama, yang bertujuan mendorong perkembangan biologis, dimulai (!). Perang ini menyebabkan 8 juta orang mati, ratusan kota hancur, serta jutaan korban lain yang terluka, cacat, tuna wisma, dan kehilangan pekerjaan. Sumber utama peperangan yang dilancarkan Nazi, yang terjadi 21 tahun setelahnya dan menelan sekitar 50 korban jiwa, juga berasal dari Darwinisme.


Peperangan abad ke-20 menyebabkan kehancuran dasyat bagi umat manusia.

Hitler seringkali menghubungkan kebijakan perang dan pembantaian etnis yang dilakukannya dengan Darwinisme. Ia melihat perang tidak sekedar untuk melenyapkan ras-ras lemah, tapi juga untuk menyingkirkan anggota-anggota lemah dari ras induk. Jerman Nazi memuja perang sebagiannya karena alasan tersebut, sebab dalam benak mereka perang merupakan satu tahapan sangat penting bagi kemajuan ras.

Evolusionis A. E. Wiggam menjelaskan tentang “kepercayaan bahwa perang akan membuat manusia berkembang”, sebagaimana yang menjadi dasar kebijakan Hitler, dalam buku yang terbit pada tahun 1922:

… pada satu masa manusia memiliki otak sedikit lebih besar dibanding sepupu antropoidnya, yaitu kera. Tapi, dengan menendang, menggigit, berkelahi…dan mengalahkan musuh-musuh yang kurang pintar darinya, dan dengan kenyataan bahwa mereka yang tidak memiliki cukup kemampuan dan kekuatan untuk melakukannya akan binasa, maka otak manusia menjadi besar dan berkembang lebih baik dalam hal kearifan dan kecerdasan, jikalau tidak dalam hal ukuran…67

Hitler mendapatkan dukungan dari para evolusionis seperti Wiggam dan menganggap perang sebagai keharusan bagi mereka yang ingin tetap hidup. Ia menyatakan ini secara terbuka dalam Mein Kampf:

Keseluruhan alam kehidupan adalah peperangan dasyat antara yang kuat dan yang lemah – dan kemenangan abadi ada pada pihak kuat atas pihak lemah. Bila tidak demikian, maka tiada sesuatupun kecuali kerusakan meliputi seluruh alam. Siapapun yang ingin hidup harus berjuang. Siapapun yang enggan berjuang di dunia ini, di mana perjuangan tanpa henti telah menjadi kaidah kehidupan, tidak berhak untuk tetap hidup. Untuk berpandangan di luar ini berarti “menghina” alam. Kesedihan, kesengsaraan, dan penyakit adalah balasan untuknya.68

Para Darwinis menyatakan bahwa yang kuat tetap bertahan setelah berjuang demi kelangsungan hidup, dan spesies yang dikembangkan melalui cara ini menjadi teradaptasikan ke masyarakat manusia. Dengan pandangan seperti ini, peperangan juga mulai dianggap sebagai keharusan demi kemajuan umat manusia. Misalnya, Hitler menganggap kehebatan Jerman bersumber pada pemusnahan warganya yang lemah melalui peperangan selama berabad-abad. Meskipun bangsa Jerman tidak asing dengan peperangan, pembenaran “ilmiah” baru merupakan dukungan terhadap kebijakan mereka yang suka perang.

Di lain tempat, Hitler juga menyatakan, “Peradaban manusia sebagaimana kita saksikan tidak akan ada kalau bukan karena perang yang terus-menerus.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: